Postingan

Jika Terjebak Rasa

Pernah gak kamu ngerasa ada suatu rasa yang beda ketika kamu melihat seseorang? Dari sekian banyak orang yang pernah dikenal, tetapi hanya ada satu orang yang terasa spesial.  Jika ada dia, jantung terasa lebih capat terpompa. Senang jika berjumpa. Sedih jika berpisah. Salah tingkah jika didekatnya. Tersipu malu saat dia memperhatikan kita.  Nah, kalau sudah terjebak rasa, kita harus apa? Mendekatinya? Nyatakan rasa? Kabur? Pura-pura biasa aja? Atau mencintai dalam diam?  Untuk bisa tetap waras dalam menyikapi rasa, kita perlu memahami mekanismenya. Rasa cinta itu bagian dari emosi manusia. Itu normal dan wajar. Tandanya hormon tubuh kita berfungsi dengan optimal.  Tetapi, rasa cinta bukan hanya soal naluri saja. Melainkan ia harus disalurkan dengan aturan Illahi. Karena manusia itu makhluk Allah yang sempurna. Maka untuk menghalalkan rasa kita perlu menyatukannya dengan ikatan suci pernikahan.  Kalau belum mampu menempuhnya, jangan khawatir. Kita masih bisa ber...

Berjeda untuk Mencari Makna

Pernah gak sih ngerasa lelah banget sama hidup? Rasanya kayak lagi lari tapi gak sampai-sampai di garis akhir. Ingin nyerah tapi udah terlalu jauh. Ingin lanjut tapi rasanya gak sanggup. Akhirnya cuma bisa terus berlari tanpa arti.  Ah, rasanya pasti gak nyaman banget ya. Bingung harus seperti apa. Tetapi hidup memaksa kita untuk terus berlanjut sampai maut menjemput.  Kalau sudah seperti ini, yuk kita ambil jeda sejenak.  Lambatkan dulu temponya. Sambil kita renungkan lagi beberapa hal.  Mungkin dititik ini kita perlu kembalikan lagi kesadaran diri yang mulai kabur. Coba ingat kembali tentang alasan mengapa kita ada disini, memilih jalan ini dan tujuan akhir apa yang kita tuju.  Lalu, berterima kasihlah kepada diri yang telah setia menemani. Lihat, ternyata langkah kita sudah sejauh ini. Tak apa, jika masih banyak yang ingin kita tuju di depan sana. Tetapi, jangan pernah lupa atas setiap pencapaian yang telah kita dapatkan. Bersyukurlah. Meskipun masih ada bany...

Berdo'a dengan Rasa

Kita seringkali melafazkan do'a lewat kata. Bahkan saking terbiasanya kecepatan do'a bisa melebihi kecepatan kereta lintas kota. Mungkin saking hafalnya, sudah lancar tanpa mengeja. Namun, apakah setiap doa yang terucap dari lisan ini terasa juga sampai ke hati? Sayangnya doa-doa kita hampa, tanpa rasa.  Padahal, berdo'a bukan hanya menyampaikan kemauan. Ialah wujud dari penghambaan kita pada Dzat yang Maha Segala. Rasa yang semestinya hadir, bukanlah rasa biasa. Melainkan rasa butuh, harap dan bergantung penuh pada sang Maha Kuasa.  Jika do'a hanya kita lantunkan lewat lisan saja, bagaimana orang yang tidak bisa berbicara? Bukankah mereka juga bisa berdo'a? Iya, mereka berdo'a dengan hatinya. Sungguh, Allah Maha Mendengar dan Maha Tahu segala isi hati. Berdo'alah dengan kesadaran diri. Munculkan rasa harap pada Allah agar segala permohonan ini benar-benar tulus dari hati. Bukan hanya karena ingin segera dikabulkan. Melainkan berharap mendapat pertolongan. A...

Tangga Menggapai Asa

Ujian dalam hidup itu pasti ada. Kisi-kisinya udah Allah kasih tau di surat al-mulk ayat 2, bahwa Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang paling baik amalnya. Jadi, kalau mau naik level kualitas diri, harus mau diuji. Kalau mau semakin kuat, harus siap ditempa. Biasanya ujian itu ada dititik terlemah kita. Tapi manusia gak tau bentuk ujiannya seperti apa. Makanya jangan suka ngiri sama hidup orang lain yang keliatannya tenang-tenang aja. Padahal, kita gak tau aja ujian yang dia hadapi sebesar apa diranah yang lainnya. Tapi jarang sih ada orang yang iri sama ujian orang lain. Adanya orang yang membandingkan ujian tiap orang. Lalu merasa bahwa ujian orang lain itu receh dan lebih ringan dibanding ujian hidupnya sendiri. Akhirnya jadi dramatisasi penderitaan. Kayak sinetron yang sountracknya "kumenangiss membayangkan... " Hehe.  Jadi, ujian pasti ada. Selagi kita masih di dunia. Ada disemua fase hidup kita. Gak cuma jomblo aja yang hidupnya paling menderita. Ta...

Menikahi Visi

Hari ini tepat 2 oktober 2020. Sebuah hari  yang istimewa bagiku. Sebab di hari inilah  aku memberi batas waktu untuk mengakhiri semua rasa sedih, kecewa serta harap pada makhluk. Hari terbebasnya hati dari ketergantungan pada manusia yang selalu berpotensi menyakiti. Hari disaat aku memulai lembaran baru dalam menjalani hidup dengan rasa berserah diri. Ternyata hari ini pun adalah peringatan 833 tahun pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dan pasukannya. Sebuah peristiwa sejarah yang begitu istimewa. Mengingatkanku kembali akan kisah pertemuan kedua orang tua Shalahuddin yang begitu luar biasa. Kisah  Nuruddin zanki bertemu dengan istrinya seperti sebuah kisah penguat dan penyemangat. In syaa Allah atas izin Allah, kita juga akan menikah dengan orang yang satu tujuan yang sama. Asalkan sabar dan yakin hanya pada-Nya. Ayah dan ibu Shalahuddin salah satu contoh pemuda dan pemudi yang punya cita-cita besar dalam membangun keluarga. Bukan hanya memikirkan untuk keb...

Menetralkan Hati

Yang tersulit bagi sebagian wanita adalah tentang mengelola perasaannya. Termasuk aku, seorang wanita dengan dominasi perasaan yang terus bertumbuh. Sejak berhijrah dan belajar kembali tentang batasan antara laki-laki dan perempuan, tugas berat selanjutnya adalah tentang menjaga hati.  Mungkin tidak semua orang dihadapkan dengan ujian diranah yang sama. Hingga persoalan hati ini ya tidak semuanya mampu memahami. Tetapi, disinilah aku ingin berbagi tentang bagaimana menjaga hati agar tidak terisi dengan seseorang yang belum pasti. Aku merasakan setelah menghijrahkan hati pada Allah, banyak jalan-jalan yang terbuka menuju impianku. Allah terus mengabulkan do'a-do'a yang aku tulis sebagai rancangan hidupku. Bisa berbagi sebagai inspirator muslimah, menulis buku, memulai bisnis dan masih banyak lagi. Semua jalan menuju impianku terbuka. Allah hadirkan orang-orang baik yang selalu mengingatkanku padaNya.  Namun, semua nikmat itu diberi sepaket dengan ujiannya. Hampir setiap semeste...

Disaat Futur Melanda

Ada masanya kita bersemangat dalam beribadah. Mudah menyegerakan sholat awal waktu, mudah mengeluarkan sedekah, ringan tangan dalam berbuat baik serta mampu berlama-lama dengan Al-Qur'an. Lalu, tiba-tiba datang pula masa-masa semua ibadah terasa berat sekali. Sholat jadi lalai, bersedekah jadi abai, membantu orang jadi malas dan membaca Al-Qur'an terbengkalai. Itulah masa dimana futur melanda. Naik turunnya iman kita bukanlah pembenaran bahwa kondisi futur ini wajar adanya. Justru, iman yang berdinamika harusnya membuat kita lebih waspada. Serta lebih peka terhadap sebab terjadinya. Mulailah pelajari pola naik dan turunnya iman agar kita bisa berupaya maksimal untuk menjaga dan mengelola. Minimal jika futur melanda, kita punya kesadaran yang cepat untuk bermuhasabah dan melanjutkan mujahadah. Jika kita resapi surat Asy-Syams ayat 7-9 bahwa Allah berfirman, "Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) nya. Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sung...

Mudah Menikah

Ada orang yang Allah mudahkan jalannya untuk menikah. Namun, ada pula orang yang harus menempuh berbagai jalan untuk bisa sampai pada takdir pernikahan. Keduanya sampai pada takdir yang sama tetapi dengan cara yang berbeda. Sebab ujian tiap orang itu berbeda. Sudah sesuai kadar kemampuannya.  Jikalau kamu adalah orang yang Allah mudahkan untuk menikah, bersyukurlah dengan takdirmu. Sebab tak semua penantian berujung temu. Serta tak semua proses ta'aruf lancar berlalu. Jika dimudahkan jalanNya, maka persembahkan ketaatan setelahnya. Ingatlah selalu bahwa pernikahanmu adalah ladang ibadah panjangmu. Pastikan langkahnya mendekat pada syurga selalu.  Serta teruntuk kamu yang masih sabar dalam ruang tunggu. Bersyukurlah selalu. Sebab Allah sedang menjagamu. Tak sembarang orang dibiarkan mendampingimu. Sebab kamu adalah aset Ummat yang harus dibersamakan dengan orang yang tepat. Maka menantilah dengan ketaatan. Kelak, dia yang Allah hadirkan untuk membersamai perjalananmu akan bersy...

Berkarya dengan Bahagia

Saat ini anak muda mulai banyak yang berkarya. Menulis buku bersama, buku solo, buat konten youtube, konten edukasi di instagram, bikin podcast dan berbagai kreatifitas lainnya. Semua orang saat ini bisa membangun panggungnya sendiri. Tidak lagi malu-malu dan tidak lagi ragu-ragu. Satu per satu mulai berani mencoba hal baru.  Diantara sibuknya anak muda yang berkarya ternyata masih ada juga anak muda yang merasa tak berdaya. Semakin ia melihat orang lain sibuk berkarya, justru ia semakin merasa menderita. Ingin rasanya seperti orang-orang diluar sana. Bisa berkarya dengan bebasnya. Tetapi apalah daya, hati malah berkecamuk tak terima. Mengapa orang lain selalu selangkah di depannya?  Akhirnya ia pun sibuk dengan pikirannya. Bukan berpikir karya apa yang bisa dilahirkan. Ia malah berpikir bagaimana menemukan sisi buruk dari karya orang lain. Jika tak menemukannya, ia malah mengutuk diri sendiri. Merasa tak mampu melakukan apa-apa. Semakin hari, hatinya terpenjara dengan rasa ir...

Melepas Sebelum Memiliki

Pernahkah kamu merasa kehilangan? Entah barang ataupun seseorang. Bagaimana rasanya? Mungkin sedih dan kecewa mendera. Iya, aku tau rasanya. Sebab aku pun sedang merasakannya.  Tidak mudah memang melepaskan sesuatu yang telah melekat di hati. Bertambah berat jika sesuatu itu yang telah kita yakini sebagai milik kita tetapi harus kita relakan untuk orang lain.  Disaat perasaan sedih dan kecewa berkecamuk di dalam dada. Aku hampir menolak rasa sakit itu ada. Pernah dalam sehari saja aku bohongi diri bahwa aku tak apa-apa. Tetapi selepas itu, rasa sesak hadir tak diminta. Seperti mimpi buruk yang mengintai di malam hari tanpa kuduga. Emosi yang kupendam, membuncah dengan hebatnya.  Lalu aku utarakan di dalam sunyinya malam, bahwa aku sedih dan kecewa. Aku telah merasa memiliki padahal takdir tak berkata sama. Aku menangis sambil berusaha meyakinkan Sang Pemilik hati, bahwa aku terlalu percaya bahwa keyakinanku ini yang terbaik. Aku masih belum terima sepenuhnya keputusan San...

Berhenti Bermimpi

Aku teringat saat pertama kali perjalanan impian ini dimulai. Selepas masa putih abu-abu aku menjadi pejuang mimpi. Aku tuliskan semua cita-citaku disebuah catatan sedari aku lulus ujian nasional sampai aku wafat. Tepat sekitar lima tahun lalu.  Selepas aku menuliskannya, Allah perjalankan aku menemui guru dan teman-teman seperjuangan. Berawal dari mimpi lalu diteruskan dengan berbagai aksi. Ternyata sedikit demi sedikit impian itu menjadi semakin dekat. Walau tak semudah yang aku kira, tetapi perjalanan ini sungguh berharga.  Ibarat sedang mendaki puncak gunung, sepertinya aku saat ini sedang berada di atas bukit. Titik dimana aku bisa sedikit merasa puas dan cukup atas perjalanan ini. Tetapi, jika aku berhenti disini  sepertinya aku tak akan sampai pada tujuan akhir yang aku tetapkan.  Zona ini sepertinya membuatku hampir terlena. Seolah perjuanganku sepertinya cukuplah disini saja. Padahal, aku masih jauh dari aman. Bahkan aku bisa dengan mudah tergelincir dan jat...

Menanam Pohon Terbaik

Bayangkan disaat kamu sedang kepanasan disiang bolong, bercucuran keringat karena panas yang menyengat serta lelah dan butuh berteduh. Lalu di ujung jalan kamu melihat sebuah pohon yang tinggi menjulang, akarnya kuat dan kokoh. Segeralah bergegas kamu menujunya dan melepas segala peluh yang kamu rasakan.  Bagaimana rasanya menemukan pohon yang baik disaat yang tepat? Rasanya lebih dari nikmat. Kita pasti akan merasa selamat. Belum lagi jika pohon itu berbuah manis dan lebat. Sungguh, pohon itu semakin bertambah manfaat. Semakin menambah rasa syukur yang teramat sangat.  Menurutmu, mana yang lebih beruntung? Yang mengambil manfaat dari pohon atau yang menanam pohon? Tentunya yang menanam pohon. Sebab setiap manfaat yang pohon berikan kepada orang disekitarnya, akan menjadi sedekah bagi yang menanamnya. Sekali menanam, mengalir terus pahalanya. Walau yang menanam sudah wafat.  Di dalam Al-Qur'an, ternyata ada perumpamaan tentang pohon yang baik. Coba ceck Qur'an surat Ibrah...

Menemukan Aku yang Baru

Setiap manusia tidak lepas dari ujian dalam hidupnya. Selagi di dunia, memang ujian adalah niscaya. Sebab darinya hidup kita akan menjadi lebih bermakna. Asal kita tau bagaimana cara dalam menghadapi setiap ujian yang menimpa.  Jalan hidup kita ibarat berjalan disebuah labirin. Bukan jalan yang lurus dan mulus untuk mencapai tujuan. Tetapi jalan yang penuh misteri dan kejutan. Kadang kita menemui jalan berliku, jalan memutar atau bahkan jalan buntu. Saat kita menemui jalan tersebut, kita akan merasa lelah. Seolah begitu rumitnya untuk sampai pada tujuan akhir kita.  Ujian hidup yang kita alami pun ibarat jalan berliku disebuah labirin. Saat kita menemui setiap ujian tersebut, kondisi kita pun akan merasakan kelelahan. Kondisi lelah yang kita alami termasuk dalam emosi negatif yang harus kita obati.  Namun jika kita mengabaikan emosi negatif yang ada dan berpura-pura bahagia atas setiap masalah yang kita terima, maka ternyata emosi itu tidak akan hilang tetapi just...

Mencuci Masalah

Kegiatan beresin rumah adalah kegiatan sehari-hari kita. Paling hanya bisa kita lewati kalau kita lagi liburan aja. Itu pun gak lama-lama. Pasti aktivitas ini setiap hari kita lakukan. Menyapu dan mengepel lantai, mencuci dan melipat pakaian serta mencuci berbagai perkakas rumah. Aku orang yang suka merenungi setiap kejadian. Bahkan setiap bersih-bersih rumah pun aku sambil sibuk berdialog dengan pikiran. Diamku adalah tanda kalau pikiranku sedang asik berdiskusi. Menganalogikan sesuatu atau mengingat kembali nasihat guru. Aku dulu suka bertanya dalam diri sebuah pertanyaan yang bermula dari kata kenapa. Suatu ketika aku berpikir, "kenapa sih harus beberes, nyuci dan lainnya?" Bukan karena pengen ngeluh. Tetapi ada aja titik dimana untuk mengerjakan aktivitas beres-beres rumah terasa jenuh. Muncul pertanyaan itu sekaligus menjadi sebuah jalan untuk memaknai setiap kegiatan. Sehingga menjadi lebih bersemangat dan bahagia saat menjalaninya. Aktivitas beberes rumah yang...

Mengingat Rasa yang Pernah Ada

Ada sebuah rasa yang begitu istimewa. Muncul dibulan yang mulia. Disaat rasa itu ada, nikmat terasa begitu dahsyat. Seolah tak ingin beranjak dan pergi dari waktu yang singkat. Rasa yang pernah ada ini membuat kita berubah menjadi sosok yang berbeda. Lebih sabar, taat, baik, suka berbagi, tak mudah mencaci, dan dekat dengan kalam Illahi. Rasa itu adalah rasa nikmatnya ibadah di bulan suci Ramadhan. Apakah kita masih mampu merasakannya saat ini? Setidaknya semangat untuk memperbaiki diri masih tersemat di dalam nurani. Meski tak semewah saat dibulan suci. Tetapi energi untuk melanjutkan ketaatan tak hilang atau pergi. Mari kita ingat lagi tujuan dari hadirnya bulan Ramadhan. Bukan hanya soalan perintah puasa yang menjadi kewajiban yang harus tertunaikan. Tetapi tujuan besar dari bulan suci ialah untuk menjadi sejatinya hamba dengan derajat terbaik yaitu taqwa. Maka waspadalah saat futur melanda setelah Ramadhan berlalu. Mari kita ingat lagi jejak ruhiyah dimasa terbaik itu. Jadika...

Saat Waktu Berlalu Tanpa Arti

Seringkali kita kebingungan untuk mengatur waktu. Pikiran kita cepat sekali penuh. Tetapi pada kenyataannya tidak banyak aksi yang kita lakukan. Bahkan mungkin lebih banyak tidak melakukan apa-apa dan tidak produktif. Suatu hari kita pernah mengeluhkan kalau kita bosan karena terlalu banyak waktu rebahan. Lalu kita mencoba untuk mengambil beberapa peluang agenda yang bisa mengisi waktu luang. Satu persatu peluang diambil. Tanpa banyak pertimbangan dan cenderung ikut-ikutan. Lalu dihari berikutnya kita mengeluhkan semua pilihan yang diambil. Sepertinya jadwal kita berubah menjadi padat. Sampai-sampai belum dijalani semuanya, sudah pusing duluan memikirkannya. Lalu ingin mencari waktu rebahan yang dirindukan. Muncul pikiran untuk melarikan diri dari pilihan-pilihan yang sudah ditetapkan. Akhirnya kita kembali menjadi orang yang hilang kendali. Seperti pengangguran tetapi banyak acara yang dimiliki. Kita kembali sibuk menghabiskan waktu dengan apa-apa yang kita suka sebagai upaya p...

Kepada Putra-putriku [Book Review]

Review Buku Bersama Mahjarbook club Judul : Kepada Putra-putriku Penulis : Ali Atthonthowi Penerbit : Gema Insani Press Tahun : 1987 Jumlah hlm : 48 hlm Penulis review : Asrida Juliana Sesuai tahunnya, buku ini sudah lama ditulis dan diterbitkan. Saya kira bakalan bosen atau gak sesuai dengan fenomena saat ini. Tetapi ternyata saya salah. Selepas menyelesaikan buku ini, air mata saya tetap saja mengalir. Terasa dekat dan lekat nasihat seorang ayah dalam buku ini. Ditulis apa adanya dan penuh makna. Seorang ayah berusia setengah abad alias 50-an tahun yang menulis buku ini. Persis dengan usia ayah saya saat ini. Isinya seperti surat untuk anaknya. Ada 2 bagian, satu khusus untuk anak perempuan alias putri dan satu lagi untuk anak laki-laki alias putra. Penulis mempu membahasakan tulisan sesuai dengan bahasa khusus perempuan dan laki-laki. Nasihat sederhana tapi penting sekali disampaikan oleh orang tua terutama ayah sebagai panutan dalam keluarga. Nasihatnya tentang bahaya...

Menjadi Mujahidah Writer

Aku bukan seorang mentor menulis. Bukan pula orang yang sudah lama menggeluti bidang kepenulisan. Aku hanyalah seorang perempuan  yang jatuh cinta dengan menulis. Bahkan dulu pernah Allah izinkan mendapat hidayah dari sebuah tulisan. Selama perjalananku mengenal diri, aku menemukan banyak wadah kebaikan. Aku ikut berbagai komunitas kebaikan salah satunya komunitas menulis. Disanalah aku pertama kali belajar untuk berani menyusun kata demi kata. Merangkai kalimat demi kalimat. Menyusunnya menjadi sebuah paragraf utuh. Hampir setiap hari aku merenungi tentang dinamika kehidupan. Ternyata banyak hikmah yang bisa aku tuliskan. Sampai tak terasa ternyata semakin aku sering menulis hikmah, maka semakin aku banyak belajar. Aku adalah penulis yang berbahagia. Aku bahagia ketika Allah memberiku hidayah untuk bisa menangkap hikmah. Aku bahagia saat tulisanku bisa menjadi pengingat dan penguat diri. Aku pun bahagia saat orang lain juga ikut mengambil manfaat dari setiap tulisan sedernan...

Ketika Hidupmu Mulai Ambyar

Pernah gak sih ngerasa lelah banget jiwa dan raga? Masalah kian bertambah. Pekerjaan bertumpuk dan tertunda. Pikiran penuh dengan ketakutan yang muncul tiba-tiba. Hingga akhirnya tak ada yang bisa dilakukan sama sekali. Diri serasa hilang daya. Itulah titik dimana hidup mulai ambyar. Berantakan dalam berbagai urusan. Waktu berlalu penuh dengan beban. Hari-hari berlalu tanpa ada harapan. Seakan bahagia hanya sebuah selogan. Disaat hal itu terjadi, mari mengambil jarak dan menepi. Berdialog dengan diri. Mengungkapkan segala isi hati. Awali dengan sapaan di depan cermin, "Apa kabar wahai hati? " Tak perlu terburu-buru mencari kawan pelampiasan rasa. Temui dulu diri sendiri di dasar hati. Bicaralah dengan nuranimu yang selalu setia menemani. Ia adalah sahabat sejati yang melengkapi diri. Bicaralah jujur kepada diri. Apa kiranya yang membuat hidup menjadi sulit dan terasa sakit tiap hari? Apakah  karena pondasi hidup yang mulai rapuh? Apakah sebab kita yang sering menyaki...

Teladan Cinta

Setiap ujian cinta pasti ada teladannya. Jikalau rasa itu hadir dari seorang perempuan berhati lembut terhadap seorang laki-laki berperangai indah. Barangkali kita bisa belajar dari kisah Nabi Yusuf as dan Siti Zulaikha. Betapa besar rasa cinta Zulaikha pada Yusuf, ternyata mampu menembus batas sadarnya seketika. Membuatnya hilang arah. Hingga tak kuasa menahan segala rasa yang ada. Ia hampir terperangkap cinta buta. Ia hampir mengikuti hawa nafsunya. Tetapi, atas perlindungan Allah ia pun selamat. Nabi Yusuf, masih mampu pertahankan imannya. Hanya pada Allah keduanya berserah. Hanya kepada Allah rasa cinta ini dikembalikan. Serta hanya untukNya segala pengrobanan harus dilakukan. Saat pertolongan Allah menjadi penjaga diantara keduanya. Hidayah pun hadir. Pilihannya ialah melepas, bukan memaksakan takdir. Sebab terlalu menyakitkan jika harus mengejar bayangan. Hanya akan menyisakan tangis tanpa ada pertemuan yang diidamkan. Zulaikha pun tak bisa sepenuhnya menyalahi rasa yan...